Membangun Resiliensi Dalam Pandemi Covid 19

05/08/2020 03:23:52

Pandemi Covid 19 sampai saat ini masih menjadi momok yang menghantui dan membebani banyak pihak di seluruh dunia. Dalam situasi ini, manusia menghadapi dua tugas berat yaitu menemukan vaksin Covid 19, dan melakukan segala yang terbaik untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan sebagai dampak Pandemi tersebut.

Pandemi Covid 19 telah memberikan pukulan telak bagi perekonomian dunia. IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 mencapai minus 3%. Pada kuartal I, Indonesia masih mencatat pertumbuhan positif. Meskipun demikian, banyak pihak mengkhawatirkan penurunan terjadi pada kuartal II yang semoga bisa pulih di akhir tahun 2020.

Saat ini, Indonesia mulai melakukan pelonggaran PSBB untuk mempertahankan stabilitas ekonomi. Pada kesempatan tersebut, perusahaan dan segenap karyawannya berjuang untuk kembali meningkatkan produktivitas demi mempertahankan kelangsungan bisnis. Dalam situasi ini, perlu dibangun satu kekuatan yaitu resiliensi.

Resiliensi adalah kemampuan individu melakukan penyesuaian dengan cepat dalam situasi krisis. Individu yang resilien memiliki karakter: mampu mengendalikan emosi dan keinginannya dengan baik, merasa optimis dan yakin, menunjukkan empati terhadap lingkungan, melakukan analisa dengan baik, memilah prioritas dan membangun visi (Reivich dan Shatte, 2002).

Pada tingkatan personal, karyawan yang resilien diharapkan mampu merubah berbagai perasaan khawatir dan cemas yang muncul akibat Covid 19 menjadi waspada, mencari solusi terbaik untuk beradaptasi dengan perubahan situasi di pekerjaan, menunjukkan ketenangan dan kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan pekerjaan, membentuk relasi hangat dan saling memperhatikan di lingkungan kerja.

Pada tingkat organisasi, juga perlu dibangun resiliensi. Terbentuknya budaya resiliensi dalam organisasi, akan menjadikan karyawan bekerja dengan nyaman, merasa optimis dan aman selama situasi bencana ini, menangkap peluang perubahan yang terjadi dan menjadikannya sebagai kekuatan baru bagi kelangsungan bisnis.

Sejumlah hal yang perlu diperhatikan untuk membangun resiliensi dalam organisasi:

1. Organisasi perlu menciptakan iklim yang mendorong setiap individu untuk bersyukur ditengah berbagai masalah yang ditimbulkan Pandemi Covid 19, kita tetap bersyukur bahwa sampai saat ini, kita masih diberikan kesempatan oleh-Nya untuk hidup.

2. Meningkatkan kepedulian satu dengan lain. Mulailah melakukan:

  • Bertanya kabar dan memberikan perhatian tulus (sincere) terhadap kondisi rekan kerja.
  • Memberikan apresiasi terhadap setiap upaya yang dilakukan untuk bekerja, termasuk upaya berbagi (sharing) pengetahuan dan informasi yang bermanfaat.
  • Saling mengingatkan untuk senantiasa disiplin menerapkan protokol kesehatan Covid 19, untuk menjaga kesehatan dan keselamatan bersama bagi karyawan dan keluarganya.

3. Atasan memanfaatkan proses review kinerja sebagai momentum untuk menginspirasi karyawan dalam meningkatkan kepercayaan dan kekuatan diri ke depan. Pada saat ini, peran atasan lebih penting sebagai counselor, bukan coach.

4. Pada momen yang tepat, organisasi juga bisa menciptakan terobosan. Tidak bisa dipungkiri bahwa situasi Pandemi telah membuka hal-hal baru, seperti optimalisasi penggunaan teknologi dan proses kerja Work from Home. Pengalaman-pengalaman tersebut dapat menjadi masukan untuk menciptakan inovasi dan improvement bagi kemajuan bersama.

5. Pada akhirnya, situasi perubahan yang terjadi sebagai dampak Covid 19 perlu berada dalam kerangka organisasi untuk membangun SDM tangguh menuju masa depan yang lebih baik. Penting bagi organisasi untuk mengapresiasi perilaku positif karyawan selama masa pandemi, menghubungkannya dengan strategi organisasi di masa mendatang dan menyampaikannya kembali pada karyawan agar bersama-sama mempertahankan seluruh perilaku positif tersebut.

Apa yang akan dialami ke depan belum menjadi suatu yang final. Tapi yakinlah bahwa jalan akan terbuka bagi kita yang selalu memiliki harapan dan usaha. Pada dasarnya manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Kemampuan tersebut merupakan modal besar bagi kita untuk menjadi penyintas (survivor) bukan sebagai korban (victim). Merupakan kewajiban dan tanggung jawab kita, untuk meneruskan semangat membangun organisasi, masyarakat dan bangsa.

Tags : SDM, Management, Leadership, Inovasi

Artikel Selanjutnya : Membangun Budaya Disiplin Dalam Menerapkan Penilaian Kinerja

Artikel Sebelumnya


Komentar




The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort, but where he stands at times of challenge and controversy.

EVENTS


ARTICLE'S TAGS

Partnership Inovasi Assessment Training SDM Leadership Management